Monday, 2 February 2015

Let Life Happen in CONRAD



Selamat datang di Tanjung Benoa, Nusa Dua, Bali, dimana satu daerah yang jarang saya sambangi saat berada di Bali. Kebiasaan saya adalah sesegera mungkin untuk keluar dari hotel dan menikmati Bali sebagaimana mestinya. Mencari nasi jenggo, membeli bir, bertemu teman, menyewa papan dan meluncur di laut. Untuk apa berlama-lama di hotel jika yang saya inginkan adalah matahari, pasir dan air asin laut menetap di rambut dan kulit saya.

Perjalanan kali ini menjadi tantangan karena selama empat hari tiga malam, sebagian besar saya habiskan di Luxury Resort Conrad Bali.


14 Januari 2015 siang hari saya tiba di hotel bintang lima ini. Satu hal wajib dimililki: peta hotel yang terdiri dari 26 titik dan 353 kamar tersebut. Unsur yang cukup kental saya perhatikan adalah kehadiran air dari bagian depan lobby, kolam renang umum, area kamar suites, infinity pool di Jiwa Spa hingga akhirnya bertemu dengan pantai. Sebagai seorang zodiak pisces, yang saya rasakan adalah "Ok, we're connected," =)

Deluxe room dengan balkon menghadap ke pantai menjadi tempat saya beristirahat selama empat hari kedepan. Memasuki musim penghujan yang juga mengguyur Bali, membuat saya sedikit menyesal kenapa melakukan perjalanan ini sendirian sehingga kamar sebesar 45m2 terasa sangat hampa. I guess it's just another silly joke from the universe


Restoran Suku di lantai dasar bisa sedikit membosankan jika terlalu sering melakukan makan siang dan malam di tempat tersebut, meskipun sajian Prime Australian Beef Fillet 190gr dan sesi sarapan wajib dilakukan karena baru kali ini saya merasakan omelet terenak. Best by far this year! saya rela bolak balik ke restoran Suku demi omelet tersebut. Selama masih di topik makanan, saya juga tidak akan melewatkan kesempatan merasakan Spinach Ravioli yang tersedia di Eight Degrees South Restaurant, sebuah restoran yang berada di tepi pantai Conrad Bali. Jika yang dicari adalah sesederhana sandwich, maka Azure, mini bar di dekat kolam renang utama, akan menyajikan porsi besar rangkap tiga yang bisa disantap untuk berdua.


Oke, kembali ke pengalaman saya selama di Conrad. 15 Januari turut menjadi hari dimana Batik Art Exhibition oleh Iwan Tirta Private Collection berlangsung. Sebuah acara trunk show, cara memakai kain hingga lelang kain dilakukan. Long story short, momen tersebut berakhir dengan empat bungkus nasi jenggo (akhirnya kesampaian) yang kami santap di kamar salah satu teman media yang turut diundang.
It. was. HEAVEN!

Momen tersebut juga membawa saya kepada mba Era Soekamto dimana lepas konferensi pers, selama 30' kami berbincang mengenai batik, Iwan Tirta, sejarah Jawa sampai filosofi dibalik motif batik. Sebuah percakapan yang mencerahkan dan penuh pelajaran. Saya tidak pernah menyangka seorang perempuan muda bisa memiliki pengetahuan sedalam itu mengenai sejarah batik.


Malam kedua saya sudah mulai terbiasa berada di hotel ini dan tidak berkeliaran di sekitaran Seminyak, Kuta atau Ubud. Saya benar-benar menikmati dua jam memanjakan tubuh di Jiwa Spa merasakan perawatan lulur, pijat dan facial dengan produk premium.


Saat eksplorasi fasilitas Conrad Bali belum tuntas, kami menyempatkan diri untuk menyaksikan tari Kecak yang berkisah tentang Rama dan Sita di kawasan Uluwatu. Hari itu semesta berpihak kepada kami dengan menyajikan cuaca cerah serta matahari terbenam hampir sempurna di musim hujan.


Hari terakhir dapat dipastikan saya tidak sempat mengelilingi seluruh area Conrad Hotel, namun satu hal yang pasti dan sudah menjadi rencana saya dari hari pertama adalah, mencoba olah raga air yang tersedia. Saya rasa ini yang namanya leisure time, seperti yang sering diangkat oleh Conrad Hotel. Tujuan Anda ke hotel ini adalah untuk tidak keluar dari sangkar emas. Katakan Anda menghabiskan waktu dua minggu di Bali. 10 hari pertama dihabiskan dengan eksplorasi Bali, sedangkan sisanya Anda habiskan disini untuk beristirahat.

Conrad Bali adalah tempat yang tepat untuk mengembalikan kesegaran tubuh dengan fasilitas lengkap. Setelah mencoba paragliding untuk pertama kalinya, canoeing selama satu jam, mencoba gym (yang sayangnya tidak ada jendela menghadap keluar atau sinar matahari masuk ke ruangan), mengikuti kelas yoga di area Water Garden, melakukan sedikit jogging menyusuri pantai, berbincang dengan tamu lain hingga hanya duduk sambil membaca buku di tepi pantai, saya menyadari tidak ada salahnya menikmati fasilitas hotel yang toh, disediakan untuk kenyamanan kita juga.


Baru kali ini saya merasa, hmm... enak juga kalau ke Bali dengan kegiatan seperti ini. Ya, tentu saja saya tetap menyukai menghabiskan waktu di luar hotel, namun bukan berarti berdiam di hotel tidak bisa melakukan apapun, bahkan saya juga sempat menyelesaikan pekerjaan di ruang Business Centre.

Jadi saya bersyukur bisa menikmati waktu untuk diri sendiri ini. Saya biarkan semua mengalir tanpa rencana rinci. Menikmati memandang laut dan langit dari arah timur dan ternyata semua berjalan dengan baik serta menyenangkan.
What a good life =)


Monday, 8 December 2014

CERITA PAGI DI KAWAH IJEN

Benar kata seorang teman bernama Ivan Handoyo, "Ketika lo ke gunung, maka lo mengambil energi positif, dan lo ke laut untuk membuang energi negatif," ucapnya pada sebuah pertemuan di Casa, Kemang.

Itu yang saya rasakan ketika menginjakkan kaki di Kawah Ijen, Banyuwangi pada 6 Desember lalu.

Perjalanan dinas kali ini adalah untuk meliput Banyuwangi Jazz Pantai 2014 yang menjadi bagian dari rangkaian Banyuwangi Festival selama enam bulan, namun yang ada di pikiran saya adalah mengunjungi Kawah Ijen. Selama ini saya hanya melihatnya lewat YouTube, brosur, majalah dan televisi, sehingga dengan tekad bulat, dengan atau tanpa teman, saya akan tetap berangkat.

Mestinya perjalanan dilakukan pada jam 00.00 - 01.00 tengah malam, namun karena perjalanan darat yang kami lakukan dari Surabaya memakan waktu hingga sembilan jam dan tiba di Hotel Wisma Blambangan  jam 22.00, maka saya tidak menyanggupinya dan memilih berangkat jam 04.00 subuh.

Perjalanan mengendarai mobil Jeep 4x4 dengan pak Didi, supir sekaligus guide saya pagi itu (iya, akhirnya saya sendirian, dan itu keputusan yang tepat!) memakan waktu satu jam untuk sampai ke kawasan Ijen. Saya melihat sekeliling kawasan, dingin tapi menyejukkan dan menyenangkan, hingga saya melihat plang jarak tempuh menuju kawah Ijen dengan berjalan kaki menanjak. Tiga kilometer.


Saya tidak menyiapkan mental untuk medan tanjakan, sehingga yang biasanya di treadmill, tiga kilo bisa saya tempuh dalam 20 menit, dieprlukan waktu satu jam 15 menit untuk sampai ke kawah Ijen! memalukan! hahhaha!

Di perjalanan menuju puncak, saya berpapasan dengan pengunjung kloter pertama yang kemungkinan besar mereka telah melihat blue fire subuh tadi dan mungkin mereka akan berkata dalam hati, "yang sabar ya jeung, perjalanan masih panjang" #pukpuk, karena itu yang saya rasakan ketikan turun pulang dan berpapasan dengan pengunjung berikutnya setelah saya =D





Saya juga bertemu dengan para penambang yang sudah siap dengan keranjangnya untuk mengambil belerang. Saat berhenti sejenak di tempat peristirahatan mereka, ini cerita yang saya dapatkan:
Para penambang belerang ini bekerja untuk perusahaan swasta, dimana dalam satu hari ada dua kali trip yang mereka lakukan untuk mengambil belerang secara manual (pikul) dan mengantarnya ke penimbangan dan dapur masak belerang. Jadi bayangkan, mereka naik gunung 3 km, turun ke kawah sekitar 300-400m, naik lagi 300-400m sambil memikul 60-70kg belerang, berjalan 3km ke bawah gunung, dan jalan 1km lagi untuk ke dapur masak. Total trip sebanyak dua kali: 14km more or less, dengan setengah jalannya memikul belerang berat.




Anda memang harus melihat sendiri perjuangan mereka, untuk kemudian merasa bersyukur dengan pekerjaan Anda sekarang. Penghasilan mereka bisa mencapai  Rp 120.000-140.000/hari tanpa hari libur. Libur didapat jika mereka terlalu lelah atau sakit. Jadi apakah masih mau mengeluh? sekali lagi memang harus melihat sendiri untuk merasa simpati atau empati.

Sesampainya di Kawah Ijen, saya memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuruni kawah untuk melihat langsung proses belerang diambil. Saya dibawa oleh salah satu penambang bernama pak Nuh (46) dengan kulit yang masih kencang. "Itu efek belerang mbak, buat kulit awet muda, tapi giginya ancur," kata pak Didi saat berbincang di perjalan pulang. Pak Nuh yang memiliki satu anak remaja 17 tahun dan 1 balita ini memiliki mata yang bagus untuk mengambil foto saya selama berada di kawah dan menikmati sarapan sederhana dengan pemandangan surga.
















Saya harus bersyukur kepada Tuhan, semesta dan bumi, masih diberikan spirit, energi, kesempatan dan kesehatan untuk berada di tempat ini, dan berbagi cerita bahwa orang Indonesia harus menginjakkan kakinya disini untuk menjadi bangga bahwa ia adalah orang Indonesia.


Sebuah pagi yang sempurna meskipun kurang tidur. Saya sudah tidak memikirkan betapa berat medannya (apalagi saya perokok), tidak memikirkan biaya sewa mobil + bensin + supir + bbm sebesar Rp 650.000, karena semuanya sepadan dengan apa yang saya rasa, lihat dan nikmati.
Sebuah pagi yang sempurna untuk sarapan di tepi danau dengan sambutan matahari terbit disela gunung, kabut yang mulai turun, kehadiran monyet hitam dan kuning beserta keluarganya, obrolan ringkas serta lantunan lagu-lagu Jawa dari penambang belerang, hingga rute hutan hujan yang sangat menyegarkan seolah mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bernapas dalam-dalam. Semuanya sempurna.









































Saya hanya berharap kebahagiaan dan kedamaian ini bisa bertahan lama dan saya bawa dalam diri saya selama-lamanya.